
Rumah Bersejarah Dr. Sardjito Dijual, Tempat Diskusi Kebangsaan
Rumah Bersejarah Milik Dr. Sardjito Di Yogyakarta Di Jual Menarik Perhatian Public, Pernah Jadi Tempat Diskusi Kebangsaan. Rumah yang berada di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta tersebut bukan sekadar bangunan tua biasa, melainkan salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah penting bagi bangsa Indonesia.
Bangunan itu di kenal sebagai kediaman pribadi Dr. Sardjito, tokoh nasional yang juga merupakan rektor pertama Universitas Gadjah Mada atau UGM. Selain menjadi tempat tinggal, rumah tersebut dahulu sering digunakan sebagai lokasi diskusi kebangsaan oleh para tokoh penting Indonesia.
Sosok Penting di Dunia Pendidikan Indonesia
Rektor Pertama UGM
Dr. Sardjito di kenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan dan kesehatan Indonesia. Ia menjabat sebagai rektor pertama UGM pada periode 1949 hingga 1961. Selain itu, ia juga pernah menjadi rektor Universitas Islam Indonesia atau UII selama beberapa tahun. Namanya bahkan diabadikan menjadi nama rumah sakit terkenal di Yogyakarta, yaitu RSUP Dr. Sardjito.
Peran besar Sardjito dalam dunia pendidikan membuat rumah peninggalannya memiliki nilai sejarah yang tinggi, terutama bagi masyarakat Yogyakarta dan dunia akademik Indonesia.
Tempat Berkumpul Tokoh Bangsa
Menurut penjaga rumah sekaligus kerabat keluarga, Budhi Santoso, rumah tersebut dulu sering didatangi banyak tokoh nasional.
Beberapa nama besar seperti Soekarno, Mohammad Hatta, hingga Sri Sultan Hamengkubuwono di sebut pernah datang ke rumah itu untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan kebangsaan. Karena itu, rumah ini di anggap memiliki nilai historis yang sangat penting.
Rumah Bersejarah Ini Di jual oleh Ahli Waris
Hindari Konflik Warisan
Rumah peninggalan Dr. Sardjito kini resmi di tawarkan untuk di jual oleh ahli waris keluarga. Keputusan tersebut di ambil setelah adanya kesepakatan dari pihak keluarga agar tidak muncul konflik warisan di kemudian hari.
Budhi Santoso mengatakan bahwa sebagian ahli waris kini tinggal di luar kota sehingga pengelolaan rumah menjadi semakin sulit di lakukan. Selain faktor usia, keluarga juga merasa sudah waktunya rumah tersebut di kelola pihak lain yang di nilai lebih mampu menjaga dan merawat bangunan bersejarah itu.
Nilai Sejarah Jadi Perhatian
Meski di jual, keluarga berharap rumah tersebut tidak berubah fungsi menjadi tempat komersial seperti kafe atau bangunan bisnis lainnya. Mereka ingin rumah itu tetap memiliki fungsi sosial dan sejarah yang sesuai dengan semangat perjuangan Dr. Sardjito. Budhi bahkan berharap institusi seperti UGM atau UII dapat membeli bangunan tersebut agar tetap menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia.
Arsitektur Klasik yang Masih Terawat
Bangunan Bergaya Lawas
Rumah Dr. Sardjito memiliki desain klasik yang masih sangat terjaga hingga sekarang. Bangunan tersebut di kenal memiliki gaya arsitektur lawas dengan nuansa khas rumah era kolonial dan sentuhan gaya jengki. Lantai ubin merah mengkilap, atap segitiga tinggi, dan suasana rumah kuno masih terlihat jelas di bagian dalam bangunan. Keaslian bangunan inilah yang membuat rumah tersebut semakin bernilai secara sejarah maupun arsitektur.
Di rawat Puluhan Tahun
Budhi Santoso mengaku sudah menjaga rumah tersebut sejak tahun 1980. Selama puluhan tahun, ia ikut merawat bangunan agar tetap terjaga kondisinya. Ia mengatakan rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia.
Harapan Jadi Museum atau Pusat Sosial
Di usulkan Jadi Museum
Banyak pihak berharap rumah Dr. Sardjito nantinya dapat di jadikan museum atau pusat kegiatan sosial masyarakat. Selain menjaga nilai sejarah, fungsi tersebut di anggap lebih sesuai di banding di alihkan menjadi tempat usaha komersial. Rumah itu di nilai bisa menjadi sarana edukasi generasi muda mengenai sejarah perjuangan pendidikan dan tokoh bangsa Indonesia.
UGM Ikut Beri Respons
Pihak UGM juga ikut menanggapi kabar penjualan rumah bersejarah tersebut. Kampus menyatakan rumah itu merupakan aset pribadi keluarga, bukan milik universitas.Meski demikian, UGM di sebut berupaya menjalin komunikasi agar rumah tersebut tetap dapat di manfaatkan untuk kepentingan akademik dan sosial masyarakat.