Idi Bantara Dianugerahi Kalpataru, Penghargaan Tertinggi Di Bidang Lingkungan Hidup Pada Tahun 2004, Yuk Kita Bahas Bersama Di Sini. Di balik rimbunnya kawasan Hutan Lindung Register 38 Gunung Balak, Lampung Timur, tersimpan cerita panjang tentang konflik lahan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Selama puluhan tahun, kawasan ini menjadi medan tarik-menarik antara kepentingan konservasi dan kebutuhan hidup masyarakat. Namun, di tengah kebuntuan itu, muncul sebuah pendekatan tak lazim yang perlahan mengubah segalanya: diplomasi alpukat.
Tokoh di balik strategi sunyi ini adalah Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung. Alih-alih datang dengan alat berat atau surat pengusiran, Idi memilih datang dengan bibit pohon dan percakapan. Ia memahami bahwa konflik hutan tak bisa di selesaikan hanya dengan hukum, tetapi harus disentuh dengan solusi yang memberi harapan ekonomi bagi warga yang bergantung pada lahan tersebut Idi Bantara.
Diplomasi alpukat lahir dari logika sederhana namun kuat: jika masyarakat bisa hidup sejahtera dari pohon, mereka akan menjaga hutan tempat pohon itu tumbuh. Idi memperkenalkan varietas alpukat unggul kepada petani yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Pola tanamnya menggunakan sistem agroforestri, di mana alpukat di tanam berdampingan dengan tanaman hutan. Hasilnya, tutupan vegetasi pulih tanpa mematikan sumber penghidupan masyarakat.
Pendekatan ini mengubah relasi yang semula penuh kecurigaan menjadi kemitraan. Para petani tidak lagi dipandang sebagai perambah, melainkan sebagai penjaga hutan yang memiliki kepentingan langsung terhadap kelestarian alam. Setiap pohon alpukat yang tumbuh menjadi bukti bahwa konservasi bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan Idi Bantara.
Dalam Kawasan Hutan Lindung
Diplomasi alpukat adalah istilah yang melekat pada pendekatan unik yang di perkenalkan oleh Idi Bantara dalam menangani konflik berkepanjangan di kawasan Hutan Lindung Register 38 Gunung Balak, Lampung. Di saat berbagai upaya penertiban dan pendekatan hukum tidak membuahkan hasil, Idi memilih jalan yang jarang di tempuh: merangkul masyarakat melalui tanaman bernilai ekonomi. Alpukat, yang sebelumnya hanya di anggap komoditas biasa, berubah menjadi alat diplomasi yang mampu menjembatani kepentingan negara dan rakyat.
Konflik hutan di Gunung Balak bukan persoalan sederhana. Selama puluhan tahun, ribuan keluarga menggantungkan hidup dari lahan di Dalam Kawasan Hutan Lindung. Ketika negara datang membawa status kawasan, masyarakat merasa terancam. Ketegangan pun tak terhindarkan. Di sinilah dip lomasi alpukat memainkan peran penting. Alih-alih memerintahkan warga keluar, Idi menawarkan alternatif: mereka boleh tetap mengelola lahan, asalkan menanam pohon alpukat dan tanaman kehutanan sebagai bagian dari sistem agroforestri.
Langkah ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap hutan. Lahan yang semula hanya di anggap tempat bercocok tanam jangka pendek kini menjadi aset jangka panjang. Pohon alpukat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berbuah maksimal, sehingga petani terdorong untuk menjaga pohon dan lahan tempatnya tumbuh. Tanpa disadari, mereka menjadi penjaga hutan yang paling setia.
Dari sisi ekonomi, alpukat di pilih bukan tanpa alasan. Buah ini memiliki nilai jual tinggi, permintaan pasar stabil, dan dapat dipanen berkali-kali dalam setahun. Bagi petani di sekitar Gunung Balak, alpukat menjadi sumber penghasilan yang jauh lebih menjanjikan di bandingkan tanaman semusim. Hasilnya, tekanan untuk membuka lahan baru berkurang, karena pendapatan bisa di peroleh dari lahan yang sama secara berkelanjutan. Diplomasi alpukat juga mengubah hubungan sosial yang sebelumnya penuh kecurigaan.
Idi Bantara Tidak Hanya Dir Asakan Oleh Masyarakat Di Sekitar Hutan Lindung Gunung Balak
Keberhasilan diplomasi alpukat yang di jalankan Idi Bantara Tidak Hanya Dir Asakan Oleh Masyarakat Di Sekitar Hutan Lindung Gunung Balak, tetapi juga akhirnya di akui oleh negara. Pengakuan itu datang dalam bentuk Penghargaan Kalpataru 2024, sebuah anugerah tertinggi dari pemerintah Indonesia bagi individu atau kelompok yang berjasa luar biasa dalam pelestarian lingkungan hidup. Bagi Idi Bantara, penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi pribadi, melainkan pengesahan atas pendekatan baru dalam pengelolaan hutan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Selama bertahun-tahun, model konservasi di Indonesia kerap berfokus pada pendekatan komando: larangan, pengawasan, dan penertiban. Namun pengalaman di Lampung menunjukkan bahwa pendekatan semacam itu sering kali justru memperpanjang konflik. Ketika negara melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan Kalpataru kepada Idi, sesungguhnya yang di akui bukan hanya individu, tetapi juga paradigma baru dalam kebijakan lingkungan bahwa masyarakat bukan ancaman bagi hutan, melainkan mitra utama dalam menjaga kelestariannya.
Pengakuan negara ini memiliki makna strategis. Pertama, ia memberi legitimasi terhadap model agroforestri dan pemberdayaan yang di terapkan di Gunung Balak. Program yang awalnya tumbuh dari praktik lapangan kini memperoleh posisi kuat dalam kerangka kebijakan nasional. Artinya, apa yang di lakukan Idi tidak lagi dipandang sebagai eksperimen lokal, melainkan sebagai contoh praktik baik yang layak di replikasi di wilayah lain yang memiliki konflik serupa.
Kedua, penghargaan ini mengangkat posisi para petani hutan. Mereka yang dulu d icap sebagai perambah kini secara tidak langsung di akui sebagai bagian dari solusi. Ketika negara menghormati arsitek programnya, negara juga mengakui keberhasilan komunitas yang menjalankannya. Ini mengubah relasi kuasa: dari yang semula timpang menjadi lebih setara dan dialogis.
Lahan Yang Dahulu Gundul Akibat Perambahan Dan Penanaman Tanaman
Pendekatan diplomasi alpukat yang di jalankan Idi Bantara tidak berhenti pada konsep atau wacana kebijakan. Ia menghasilkan perubahan nyata yang bisa di rasakan langsung, baik oleh lingkungan maupun oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya. Inilah yang membedakan model ini dari banyak program konservasi lain: keberhasilannya terukur di lapangan.
Di kawasan Hutan Lindung Register 38 Gunung Balak, area yang sebelumnya terdegradasi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Lahan Yang Dahulu Gundul Akibat Perambahan Dan Penanaman Tanaman semusim kini kembali di tumbuhi pohon-pohon tahunan seperti alpukat dan tanaman kehutanan lainnya. Perubahan tutupan vegetasi ini berdampak langsung pada fungsi ekologis kawasan, mulai dari peningkatan daya serap air tanah hingga penurunan risiko erosi dan longsor. Hutan yang pulih berarti sumber air lebih terjaga, sebuah hal vital bagi wilayah Lampung yang bergantung pada daerah tangkapan hujan di pegunungan.
Di sisi sosial-ekonomi, hasilnya bahkan lebih terasa. Petani yang sebelumnya hidup dalam ketidakpastian kini memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil. Alpukat sebagai komoditas bernilai tinggi memberi peluang ekonomi yang tidak bergantung pada pembukaan lahan baru. Sekali pohon di tanam dan di rawat, ia dapat berbuah selama bertahun-tahun. Ini menciptakan siklus ekonomi berkelanjutan yang mengurangi tekanan terhadap hutan.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah berubahnya hubungan antara masyarakat dan negara. Konflik yang selama ini membayangi kawasan hutan mulai mereda. Ketika petani merasa di akui dan di libatkan, rasa memiliki terhadap hutan pun tumbuh. Mereka tidak lagi melihat aparat sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra. Dialog menggantikan konfrontasi, kerja sama menggantikan kecurigaan Idi Bantara.
