Tim PSG Tampil Superior Dan Menang Telak Dengan Skor Mencolok 4-0 Melawan Real Madrid Asuhan Xabi Alonso Yuk Kita Bahas Bersama Di Sini. Kemenangan ini tidak hanya mengantarkan wakil Prancis ke final, tetapi juga menegaskan perubahan peta kekuatan sepak bola dunia. Sejak peluit awal di bunyikan, PSG langsung menunjukkan intensitas tinggi. Gol pertama tercipta di menit ke-8 melalui tendangan mendatar Fabián Ruiz yang memanfaatkan celah di lini belakang Madrid. Tak butuh waktu lama, Ruiz kembali mencetak gol keduanya di menit ke-23 lewat kerja sama apik dengan Vitinha. Serangan PSG begitu tajam dan terstruktur, membuat Real Madrid kesulitan keluar dari tekanan.
Real Madrid, yang di tangani oleh pelatih anyar Xabi Alonso, terlihat terpukul secara mental sejak kebobolan dua gol awal. Harapan Los Blancos untuk bangkit sirna ketika Ousmane Dembélé memperlebar keunggulan menjadi 3-0 di menit ke-37. Sisa laga babak pertama menjadi mimpi buruk bagi Madrid, yang hampir tak mampu melepaskan ancaman berarti ke gawang Gianluigi Donnarumma Tim PSG.
Memasuki babak kedua, permainan Madrid sedikit membaik, namun solidnya lini pertahanan PSG membuat mereka frustasi. Justru PSG yang kembali mencetak gol penutup melalui Gonçalo Ramos di menit ke-72, mengunci kemenangan dengan skor telak 4-0. Kemenangan ini mencerminkan dominasi total PSG di semua lini — mulai dari penguasaan bola, efektivitas serangan, hingga pertahanan yang nyaris sempurna. Usai laga, Alonso mengakui keunggulan PSG dan menyebut kekalahan ini sebagai pelajaran pahit bagi timnya. “Kami tidak bermain sebagai tim besar malam ini. Kami harus meminta maaf kepada para pendukung,” ujarnya dalam konferensi pers. Sementara itu, pelatih PSG, Luis Enrique, menyambut kemenangan dengan rendah hati Tim PSG.
Di Media Sosial, Forum Suporter, Hingga Jalan-Jalan Paris, Euforia Pecah Tak Terbendung.
Kemenangan PSG atas Real Madrid dengan skor 4-0 di semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi momen yang tidak akan di lupakan oleh para penggemarnya. Bagi fans PSG, ini bukan sekadar kemenangan biasa ini adalah bentuk pembuktian bahwa klub mereka kini sejajar, bahkan lebih unggul, dari para raksasa Eropa lainnya. Di Media Sosial, Forum Suporter, Hingga Jalan-Jalan Paris, Euforia Pecah Tak Terbendung.
Di platform X (dulu Twitter), tagar #PSGFinalCWC dan #MadridDown langsung merajai trending topic global. Banyak fans memuji penampilan gemilang tim secara kolektif. “Akhirnya kami bisa bicara di pentas dunia! PSG bukan cuma klub bintang, tapi tim kuat!” tulis akun @ParisianPride. Sentimen ini diamini oleh banyak penggemar lainnya yang merasa PSG telah membungkam kritik tentang “klub uang” tanpa tradisi.
Salah satu sorotan terbesar adalah penampilan Fabián Ruiz, sang gelandang yang mencetak dua gol di laga penting ini. Banyak fans menyebutnya sebagai “Man of the Match yang sesungguhnya.” Akun penggemar @LesBleusFans menulis, “Bukan Mbappé, bukan Ramos. Malam ini milik Ruiz! Luar biasa!”
Di luar dunia maya, suasana pun tak kalah meriah. Di Champs-Élysées, ratusan suporter PSG berkumpul merayakan kemenangan dengan yel-yel dan kembang api. Beberapa media Prancis bahkan melaporkan pesta kemenangan spontan terjadi di berbagai kota besar seperti Marseille dan Lyon, di mana komunitas fans PSG merayakan sukses bersejarah ini. Tak sedikit pula yang mengungkit momen ini sebagai bentuk balas dendam simbolis atas kekalahan PSG dari Madrid di Liga Champions beberapa tahun lalu. “Kami dulu dijatuhkan oleh Madrid. Kini, kami buat mereka tak berkutik. Karma datang, dan kami yang tersenyum terakhir,” tulis seorang netizen dengan nama akun @PSGFury.
Pelatih Tim PSG, Luis Enrique, Memainkan Strategi Pressing Tinggi Sejak Menit Pertama
Kemenangan telak 4-0 PSG atas Real Madrid di semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 bukan terjadi karena keberuntungan semata. Di balik skor mencolok itu, ada sejumlah faktor kunci yang menjadi penentu dominasi mutlak PSG atas raksasa Spanyol tersebut. Dari segi strategi, performa individu, hingga mentalitas tim, PSG tampil nyaris sempurna sepanjang pertandingan.
- Taktik Jitu dari Luis Enrique
Pelatih Tim PSG, Luis Enrique, Memainkan Strategi Pressing Tinggi Sejak Menit Pertama. Real Madrid yang di kenal dengan pola penguasaan bola dipaksa bermain lebih dalam dan kehilangan ritme. PSG menutup ruang antar lini dengan sangat rapi, memaksa Madrid melakukan kesalahan umpan di daerah sendiri, yang kemudian dimanfaatkan dengan cepat oleh lini serang PSG.
Luis Enrique juga memaksimalkan kemampuan para gelandangnya, terutama Fabián Ruiz, untuk tidak hanya mendikte permainan tetapi juga mencetak gol. Skema 4-3-3 dengan fleksibilitas transisi cepat menjadi senjata utama dalam membongkar pertahanan Madrid.
- Penampilan Gemilang Fabián Ruiz dan Dembélé
Dua gol Fabián Ruiz di babak pertama menjadi pukulan telak bagi mental Madrid. Pemain asal Spanyol itu menunjukkan kualitas luar biasa dalam pengambilan posisi dan ketenangan di depan gawang. Sementara itu, Ousmane Dembélé menebar ancaman dari sisi sayap, mencetak satu gol dan terus merepotkan Dani Carvajal dengan kecepatan dan dribelnya. - Kedisiplinan Lini Belakang
Meski mencetak empat gol, kemenangan PSG juga di topang oleh performa solid dari lini belakang. Duet bek tengah Marquinhos dan Milan Škriniar tampil di siplin menghadapi serangan sporadis Madrid. Di tambah lagi, Gianluigi Donnarumma melakukan beberapa penyelamatan penting yang menjaga clean sheet tim.
Kekalahan Real Madrid Banyak Disebabkan Oleh Ketidakmampuan Lini Tengah Mereka Mengendalikan Permainan
Kekalahan telak 0-4 dari Paris Saint-Germain di semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi tamparan keras bagi Real Madrid. Bukan hanya karena skor mencolok, tetapi karena cara mereka kalah—tanpa perlawanan berarti dan terlihat rapuh di hampir semua lini. Untuk menghadapi laga perebutan tempat ketiga, serta menyongsong musim kompetisi berikutnya, Real Madrid harus segera melakukan pembenahan menyeluruh.
Lini Tengah yang Kehilangan Kendali
Kekalahan Real Madrid Banyak Disebabkan Oleh Ketidakmampuan Lini Tengah Mereka Mengendalikan Permainan. Tanpa pengganti sepadan untuk Toni Kroos yang sudah pensiun dan performa menurun dari Luka Modrić, Madrid tampak kehilangan sosok pengatur tempo. Eduardo Camavinga dan Aurélien Tchouaméni perlu di beri peran lebih dominan, namun juga harus di topang dengan skema yang memungkinkan mereka tampil efektif.
Kerapuhan Lini Belakang
Empat gol yang bersarang ke gawang Courtois menunjukkan lemahnya koordinasi antarbek. David Alaba masih belum kembali ke performa terbaiknya, sementara Antonio Rüdiger sering kehilangan posisi saat menghadapi pressing PSG. Xabi Alonso, sang pelatih, harus mengevaluasi sistem pertahanan, termasuk jarak antar lini dan kedisiplinan dalam menutup ruang. Real Madrid memerlukan sosok pemimpin yang bisa menjaga stabilitas lini belakang saat tertekan.
Minimnya Kreativitas di Lini Depan
Dalam laga kontra PSG, Real Madrid hampir tidak memiliki peluang emas yang berarti. Vinícius Jr. dan Rodrygo terlihat kesulitan menembus pertahanan rapi PSG, sementara Jude Bellingham gagal memaksimalkan perannya sebagai playmaker. Madrid perlu kembali ke formula dasar permainan menyerang mereka: pergerakan antar lini yang cair, penguasaan bola efektif, serta pressing balik yang terorganisir Tim PSG.