
Gen Z Lebih Memilih Sewa Rumah Di banding Beli, Ini Alasannya
Gen Z Mereka Yang Lahir Antara Pertengahan 1990-An Hingga Awal 2010-An Kini Menunjukkan Pola Atau Preferensi Yang Berbeda Dalam Hal Hunian. Alih-alih mengejar rumah kepemilikan, banyak dari mereka yang memilih sewa rumah atau apartemen sebagai opsi tempat tinggal utama. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain, mencerminkan bagaimana prioritas hidup Gen Z kini berubah seiring dinamika ekonomi, gaya hidup, dan budaya kerja modern.
Laporan dari berbagai riset properti menunjukkan bahwa Gen Z tampaknya lebih fleksibel dalam hal hunian dan tidak lagi melihat rumah sebagai simbol pencapaian hidup yang absolut seperti generasi sebelumnya. Terdapat sejumlah alasan kuat di balik tren ini.
1. Mobilitas dan Gaya Hidup Fleksibel
Salah satu faktor utama Gen Z lebih memilih menyewa adalah mobilitas yang tinggi. Banyak dari mereka bekerja secara remote atau berpindah lokasi tergantung peluang karier.
“Rumah yang disewa memberi fleksibilitas untuk berpindah tempat tinggal tanpa beban komitmen jangka panjang,” ujar seorang ahli properti dalam artikel Kompas.com.
Bagi Gen Z yang mengutamakan pengalaman hidup, kesempatan kerja lintas kota atau negara, serta gaya hidup nomaden digital, menyewa rumah atau apartemen dianggap lebih praktis.
2. Tingginya Harga Properti dan Gen Z Juga Menghadapi Tantangan Finansial
Harga rumah yang terus meningkat menjadi alasan kuat lainnya. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, harga rumah semakin tidak terjangkau bagi pembeli pertama (first-home buyer), terutama mereka yang baru memulai karier. Gen Z Juga Menghadapi Tantangan Finansial seperti:
- Gaji yang stagnan relatif terhadap inflasi
- Kebutuhan hidup yang tinggi
- Beban pendidikan atau cicilan lainnya
Semua itu membuat kemampuan membeli rumah untuk sebagian besar Gen Z menjadi lebih sulit. Pilihan menyewa pun di rasa lebih realistis secara finansial dalam jangka pendek hingga menengah.
- Preferensi Kehidupan Urban dan Sederhana
Generasi Z sering dikaitkan dengan preferensi gaya hidup urban yang praktis dan sederhana. Mereka cenderung menilai pengalaman hidup lebih tinggi daripada memiliki aset.
Hunian sewaan yang dekat dengan pusat aktivitas, transportasi, coworking space, dan hiburan di nilai lebih menunjang kualitas hidup mereka ketimbang rumah jauh dari keramaian. Gen Z juga terbiasa dengan konsep berbagi ruang (shared living), seperti tinggal di apartemen bersama teman atau komunitas co-living.
- Meningkatnya Popularitas Hunian Fleksibel
Tidak hanya hunian tradisional, pilihan seperti flexspace, modular living, atau apartemen dengan sistem sewa jangka pendek semakin populer. Startup bisnis properti juga menciptakan layanan yang memudahkan pencarian dan transaksi sewa, termasuk paket bulanan, layanan all-in (termasuk internet, listrik, kebersihan), serta sistem kontrak yang lebih fleksibel.
Dengan keunggulan tersebut, Generasi Z merasa hunian sewaan tidak lagi sekadar “tempat berlindung”, melainkan bagian dari gaya hidup modern yang memadukan kenyamanan, fleksibilitas, dan efisiensi.
5. Perubahan Nilai Budaya terhadap Kepemilikan
Bagi generasi sebelumnya, memiliki rumah di anggap sebagai salah satu tonggak penting dalam kehidupan simbol stabilitas dan keberhasilan. Namun Gen Z memiliki nilai yang berbeda. Banyak yang melihat kepemilikan rumah sebagai beban finansial yang berat, bukan sebagai indikator keberhasilan pribadi.
Prioritas Gen Z lebih banyak tertuju pada:
- Investasi pengalaman (travel, skill, pendidikan)
- Investasi fleksibel (reksa dana, saham, aset digital)
- Quality of life dan work-life balance
Keinginan ini mendorong mereka untuk mengevaluasi ulang apakah memiliki rumah merupakan keputusan finansial yang tepat pada tahap kehidupan mereka saat ini.
Fenomena generasi Z yang lebih memilih menyewa rumah daripada membeli bukan sekadar soal tren semata. Keputusan ini di pengaruhi oleh faktor ekonomi, gaya hidup, budaya, dan perubahan preferensi dalam cara hidup urban modern.
Memilih sewa memberi Generasi Z fleksibilitas, mobilitas, serta adaptasi terhadap kondisi ekonomi yang dinamis. Sementara membeli rumah tetap menjadi impian banyak orang, pilihan untuk menyewa kini mencerminkan realitas hidup di era digital yang penuh perubahan.